Menyeret Manusia dari Altar Suci: Gugatan Ekologis dari Universitas Mataram
Oleh: Nada Aljahra
Setiap kali saya membuka lembar naskah akademik hukum agraria atau membaca draf regulasi tata ruang, ada rasa sesak yang perlahan tumbuh di dada saya. Saya melihat pasal-pasal yang tersusun rapi, menggunakan diksi-diksi yuridis yang dingin dan berjarak, seolah-olah alam semesta ini hanyalah sebuah kompartemen mesin produksi raksasa yang bebas dijarah. Kita, dengan segala keangkuhan peradaban modern, telah mereduksi rimba raya Kalimantan yang megah menjadi sekadar angka-angka mati di atas kertas konsesi tambang dan sawit.
Melihat kehancuran ekologis yang terus dilegalkan oleh hukum positif kita membuat saya sampai pada sebuah perenungan eksistensial: Memangnya apa artinya menjadi manusia? Apakah menjadi Tuan dari segala Tuan? Saya benar-benar tidak menyukai gagasan yang menempatkan manusia di atas segala-galanya di alam semesta ini. Bagi saya, baik manusia, hutan, aliran sungai, maupun satwa liar di dalamnya memiliki hak yang sama setara untuk bernapas dan menghuni bumi ini. Sebagai makhluk yang dianugerahi label 'hewan yang berpikir', manusia mestinya memiliki kebijaksanaan untuk mengambil apa yang disediakan alam secukupnya saja—bukan mengeruknya sampai habis tanpa sisa. Jujur saja, dari lubuk hati terdalam, saya memiliki hasrat besar untuk menyeret manusia keluar dari altar suci yang menahbiskannya sebagai "Tuan dari segala Tuan". Sebab, kesombongan kolektif kita terhadap alam sudah terlampau keterlaluan.
Gugatan filosofis yang saya rasakan ini sejalan dengan apa yang disuarakan oleh filsuf lingkungan asal Norwegia, Arne Næss, melalui gerakan Deep Ecology. Næss dengan berani mendekonstruksi cara pandang antroposentrisme yang egois dan menawarkan paradigma ekosentrisme—sebuah kesadaran bahwa manusia hanyalah salah satu bagian kecil dari jaring-jaring kehidupan, bukan penguasa tunggalnya.
Keresahan mendalam terhadap eksploitasi hutan Kalimantan inilah yang akhirnya membuat saya dan dua rekan tim luar biasa, Yazril Ilham dan Raihan Fadhil Ramadhan yang juga memiliki pandangan sama untuk tidak memberhentikan gagasan ini dalam ranah ruang diskusi kecil kami saja. Kami menolak untuk menjadi penonton pasif dari kehancuran ekologis ini. Melalui pendekatan hukum progresif—sebuah mazhab hukum di Indonesia yang digagas oleh prof. Satjipto Rahardjo yang menekankan bahwa "hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum"—kami merumuskan sebuah konsep restorasi paradigma hukum dari ekonomi ekstraktif menuju keadilan ekologis yang inklusif bagi masyarakat adat Kalimantan.
Gagasan ini berhasil mengantarkan kami bertiga melangkah jauh hingga ke tahap final Mandalika Essay Competition (MEC) 8 yang diselenggarakan di Universitas Mataram, Lombok, pada tanggal 16 Mei 2026.
Sebagai mahasiswa Universitas Nusa Putra, setiap karya akademik yang kami hasilkan tidak pernah terlepas dari napas nilai-nilai Trilogi Nusa Putra, yaitu Amor Deus (Cinta Kasih kepada Tuhan), Amor Parentium (Cinta Kasih kepada Orang Tua), dan Amor Concervis (Cinta Kasih kepada Sesama Manusia). Nilai luhur almamater kami ini dapat diakses dan dipelajari secara resmi pada website Universitas Nusa Putra atau langsung meninjau ulasannya di Nilai-Nilai Luhur Nusa Putra.
Lewat esai ini, saya menyadari bahwa mempraktikkan Amor Concervis tidak boleh berhenti pada konsep kebaikan sosial yang sempit. Mencintai sesama manusia berarti juga harus memiliki keberanian untuk membela ruang hidup mereka. Ketika ekosistem hutan Kalimantan dihancurkan, maka kehidupan masyarakat adat dan komunitas lokal di sekitarnyalah yang paling pertama hancur. Mereka kehilangan air bersih, sumber pangan, obat-obatan tradisional, hingga identitas spiritual mereka yang menyatu dengan hutan.
Oleh karena itu, merumuskan perlindungan hukum yang berpihak pada kelestarian alam adalah manifestasi paling nyata dari rasa cinta kasih kami kepada sesama manusia (Amor Concervis). Kami menggunakan kapasitas intelektual kami untuk bersuara bagi mereka yang hak-hak ekologisnya dirampas.
Menerima penghargaan Bronze Medal (Medali Perunggu) di Universitas Mataram adalah sebuah berkah spiritual yang kami syukuri sepenuhnya sebagai wujud Amor Deus. Prestasi ini juga kami persembahkan dengan takzim bagi orang tua kami (Amor Parentium) yang doanya senantiasa melicinkan jalan perjuangan akademis kami.
Namun bagi saya pribadi, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah medali perunggu yang melingkar di leher kami. Kemenangan sejati adalah kesadaran baru yang kami bawa pulang: bahwa ilmu pengetahuan harus selalu memiliki detak jantung kemanusiaan dan kepedulian ekologis. Kita harus terus bersuara untuk menyeret manusia turun dari tahta kesombongannya atas alam, demi bumi yang lebih adil bagi setiap makhluk yang menatap langit yang sama.
Sumber & Referensi Akademik:
Informasi selengkapnya tentang visi karakter kampus kami dapat dikunjungi di laman Universitas Nusa Putra.
Landasan filosofis Trilogi Nusa Putra dapat dipelajari secara mendalam di Trilogi dan Nilai-Nilai Luhur Nusa Putra
Mei 31, 2026
Z_Wine



